Sabtu, 30 November 2013

Alasan Cowok Sembunyikan Perasaannya?

Cowok selalu diibaratkan sebagai lelaki kuat dan tegar. Cewek menangis adalah hal yang wajar, tapi kalau kita lihat cowok nangis? Hmmm pasti langsung dibilang cengeng dan diledekin oleh teman-temannya. Apalagi penyebab nangisnya karena cinta.
Kebanyakan cowok memiliki personaliti yang tangguh dan jarang menunjukkan perasaan mereka. Untuk sebagian besar cowok, menunjukkan perasaan bisa jadi menunjukkan kelemahan sekaligus. Bahkan disaat putus cinta pun ia akan berusaha tidak sedih dan bahkan membiarkan sih cewek meninggalkannya. Padahal sebenarnya ia sangat sedih dan tetap ingin ceweknya berada disisnya. Hmm kira-kira apa sih alasan cowok seperti itu? Cek dibawah ini criters..
1. Tidak tau apa yang dirasakan
Kebanyakan cowok dikenal sebagai makhluk yang sangat amat tidak peka. Mereka sendiri pun terkadang tidak tau perasaan apa yang sedang mereka hadapi. Saat berdebar-debar, sedih, cemburu, pesimis, rindu dan berbagai emosi asmara lainnya yang sedikit asing bagi mereka. Maka jangan heran kalau kadang-kadang mereka memeluk kamu tanpa bicara apa-apa.
2. Gengsi
Kebanyakan cowok sangatlah gengsian. Mereka lebih baik ditinggal oleh cewek yang sebenarnya sangat ia sayangi daripada ia harus memohon agar sih cewek tetap berada disisinya. Walaupun ia sangat sedih, ia akan berpura-pura baik-baik saja terlebih lagi di depan teman-teman cowoknya.
3. Takut diledek teman-temannya
Banyak cowok yang memperlakukan pacarnya dengan tidak baik hanya karena ia malu dan takut di ledek oleh teman-temannya jika ia terlihat seperti takut dengan pacarnya. Hal sepertilah yang membuat cewek tak tahan berpacaran dengan tipe cowok seperti itu. Padahal sih cowok tidak ada maksud untuk memperlakukan ceweknya dengan tidak baik dan membuat ceweknya tak nyaman berada di dekatnya.
Nah itu dia criters alasan kenapa cowok menyembunyikan perasaannya. Ada baiknya kamu bicarakan berdua dari hati ke hati dengannya. Selamat mencoba criters!

Tapi bagi ane pribadi, ane ga gengsi"an tuh, nyatanya gue pernah nangis di depanmantan gue, sama temen2 gue,..
NB: Malu itu merugikan diri sendiri kawan :)

Pria Lebih Menderita Karena Putus Cinta

Hubungan cinta tidak selamanya berjalan mulus. Ada yang sukses hingga ke jenjang pernikahan dan kemudian membuahkan anak. Namun lebih banyak hubungan cinta yang berakhir prematur dengan kedua pihak kembali menjalankan kehidupan lajangnya masing-masing. Ada yang berakhir baik-baik dengan keduanya saling mengucapkan terima kasih dan masih menjadi teman dekat. Ada pula yang berakhir tidak baik dengan keduanya saling mengucapkan sumpah serapah dan berurai air mata. Bagaimanapun juga, hubungan cinta yang kandas pasti sedikit banyak menimbulkan penderitaan bagi pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Pihak mana sebenarnya yang paling menderita akibat putus cinta?
Prialah yang sebenarnya paling menderita, menurut David Zinczenko, kolumnis majalah Men’s Health. Ia menolak anggapan umum bahwa pria lebih tegar daripada wanita dalam menghadapi putusnya hubungan percintaan. Apa saja alasannya?

Pria Menyembunyikan Perasaannya. Ketika seorang pria diputuskan oleh pasangannya, biasanya ia akan sesumbar: Biar saja, life still goes on. Caranya? 26% pria yang mengisi survei online Men’s Health melakukannya dengan minum-minum bersama teman-temannya. 36% pria akan menatap mantan pacarnya, tersenyum, dan mengucapkan terimakasih. Faktanya, kedua hal tersebut dilakukan pria untuk menutup-nutupi perasaannya. Ini adalah reaksi yang alamiah; gender pria dikondisikan masyarakat untuk tidak gampang menunjukkan perasaan, apalagi perasaan yang membuatnya terlihat lebih lemah. Namun represi ini juga berakibat sulitnya menghilangkan perasaan terluka, marah, atau sedih dari dirinya. Sebaliknya, wanita yang putus cinta biasanya langsung menangis (atau mengekspresikan emosinya) saat itu juga, dan wanita juga cenderung lebih to-the-point ketika mengakhiri hubungan cinta. Akhirnya mereka akan lebih cepat menghilangkan perasaan-perasaan negatif itu dibandingkan pria.
Pria Punya Lebih Sedikit Teman Curhat. Salah satu alasan mengapa wanita lebih cepat pulih dari penderitaan pasca putus cinta daripada pria adalah karena wanita memiliki lebih banyak teman yang bisa diandalkan untuk bercerita. Penelitian menunjukkan bahwa pria mengandalkan hubungan cinta untuk mendapatkan kedekatan emosional dan dukungan sosial, sementara wanita bisa mendapatkan hal yang sama dengan keluarga dan teman sesama wanita. Begitu wanita mengalami putus cinta, ia akan bercerita kepada siapa saja, kalau perlu kepada orang yang tidak dikenal yang duduk di sebelahnya di bis umum, agar perasaannya bisa lebih enak. Pria, di sisi lain, cenderung lebih enggan membuka diri untuk soal ini. Mungkin baru beberapa bulan kemudian, ketika dalam keadaan setengah teler, baru ia berani bercerita kepada teman-teman prianya mengenai betapa inginnya ia kembali lagi dengan si mantan.
Pria Tidak Suka Memulai Dari Awal Lagi. Setelah putus cinta, pada awalnya pria mungkin akan merasa semangat membayangkan wanita-wanita yang akan ia kencani di masa depan. Namun setelah kencan yang keempat, kesembilan, atau ketigabelas kalinya, barulah ia sadar kalau dibutuhkan usaha keras dan waktu yang panjang untuk sampai pada tingkat keintiman yang pernah ia alami bersama mantannya. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa wanita lebih mampu menyesuaikan diri ketika hubungan berakhir karena sebelumnya mereka sudah memikirkan adanya kemungkinan itu, sementara pria biasanya lebih tidak siap dengan putus cinta. Perasaan nyaman secara emosional membuat pria merasa beruntung bisa memiliki seseorang seperti dia. Sayangnya, hal ini seringkali baru disadari ketika si dia sudah berubah status menjadi mantan pacar.
Gambaran Pacaran Pria Yang (Terlalu) Ideal. Banyak kasus putus cinta merupakan reaksi sesaat atas apa yang dirasa sebagai kebosanan; bosan dengan aktivitas, pembicaraan, dan pertengkaran yang itu-itu saja. Kalau kembali melajang, pria mungkin merasa ia akan menjalani hidup yang lebih menarik; tanpa komitmen, bebas pergi ke mana saja, dan bebas bergaul dengan wanita-wanita yang bisa dijadikan pacar baru. Barulah ketika benar-benar melajang ia sadar bahwa hidupnya tidak menjadi seperti itu, bahkan sekarang waktunya tersita oleh pekerjaan. Ia pun kembali merindukan keintiman yang dia alami pada masa pacaran dulu. Penelitian menunjukkan bahwa wanita lebih tinggi skornya daripada pria dalam hal keintiman sosial, seksual, dan intelektual. Dan biasanya wanita juga lebih cepat menyadari bahwa keintiman adalah dasar dari hubungan yang tahan lama, dan bukannya sekedar variasi aktivitas.
Menurut Zinczenko pula, beberapa penelitian menunjukkan bahwa pria lebih rentan mengalami stres, depresi, dan kecemasan ketika putus cinta dibandingkan dengan wanita. Itu menurut dia. Bagaimana pendapat anda? Apakah anda memiliki pengalaman yang membenarkan atau menyangkal pendapat ini?

Karma : Hukum Sebab Akibat

Oleh : Thubten Chodron

Kelahiran kembali yang akan kita jalani setelah meninggal bergantung pada tindakan kita di masa lampau. Hal ini berkaitan dengan fungsi sebab akibat : karma dan akibatnya. Apa yang kita lakukan menjadi penyebab bagi kondisi kita di masa mendatang, dan kondisi kita saat ini adalah akibat dari perbuatan di masa lampau. Karma berarti tindakan yang mengacu pada tindakan melalui tubuh, ucapan dan batin yang disengaja : apa yang kita lakukan, ucapkan, dan pikirkan. Tindakan-tindakan ini meninggalkan jejak dan kecenderungan dalam aliran batin kita. Saat jejak dan kecenderungan ini berada dalam kondisi yang tepat, mereka akan mempengaruhi apa yang kita alami. Pembahasan tentang karma – tindakan dan akibatnya – sejalan dengan ilmu pengetahuan dan psikologi. Para ahli fisika, kimia dan biologi meneliti hukum sebab akibat dan pengaruhnya pada tingkat fisik. Mereka menyelidiki penyebab terciptanya suatu fenomena dan akibat yang dihasilkan ketika hal-hal tertentu berinteraksi dalam suatu cara yang spesifik. Psikolog mencari penyebab gangguan mental dan akibat yang dihasilkan dari pengobatan tertentu. Agama Buddha juga menyelidiki hukum sebab akibat, namun pada tingkat yang lebih halus yakni pada tingkat mental bukan fisik. Agama Buddha juga membahas hukum sebab akibat sepanjang rangkaian kehidupan. Kenyataan bahwa pengalaman hidup kita merupakan hasil dari tindakan kita bukanlah suatu sistem penghargaan dan hukuman. Ketika bunga tumbuh dari bibit, hal itu bukanlah suatu sistem penghargaan atau hukuman bagi bibit. Hanya merupakan akibat semata. Sama halnya ketika tindakan kita membawa kita pada kondisi kehidupan di masa mendatang, ini adalah akibat dari tindakan kita, bukan karena penghargaan atau hukuman. Buddha tidak membuat firman atau daftar pelanggaran yang akan mendapatkan hukuman. Buddha tidak berharap kita mengalami penderitaan, sehingga tidak akan menilai atau menghukum kita. Pengalaman kita yang tidak menyenangkan terjadi akibat perbuatan kita sendiri. Buddha juga tidak menciptakan sistem sebab akibat atau karma, beliau menjelaskan apa yang dilihatnya dengan jelas setelah melenyapkan semua gangguan dari aliran batinnya. Kita mungkin berpikir tidak adilnya kehidupan dimasa kini adalah akibat apa yang kita lakukan di masa lampau. Namun hal ini sesungguhnya tidak berkaitan dengan isu “adil” ataupun “tidak adil”. Kita tidak menyebutnya “tidak adil” ketika suatu objek jatuh ke bawah dan bukan ke atas, karena kita tahu bahwa tidak ada seorang pun yang menciptakan gravitasi. Gravitasi bukanlah sikap pilih kasih orang tertentu. Itu hanyalah hal yang bekerja secara alamiah. Sama hal nya tidak seorang pun membuat aturan bahwa jika kita menyakiti orang lain saat ini, maka kita akan mendapatkan masalah di masa mendatang. Hal ini secara alamiah terjadi sebagai akibat dari suatu penyebab. Karena kita menciptakan sebab, maka kita akan mendapatkan akibat. Buddha tidak dapat meraih batin kita dan mengubahnya. Jika Buddha mampu melakukannya, beliau pasti telah melakukannya karena kasih sayangnya yang tanpa batas. Para guru kita dapat mengajarkan alfabet, namun kita sendiri juga harus mempelajarinya. Mereka tidak dapat belajar mewakili kita. Keindahan potensi manusia terletak pada tanggung jawab kita terhadap pengalaman hidup kita sendiri. Saat hidup di masa sekarang, kita menciptakan masa depan kita. Kita memiliki kemampuan untuk menentukan diri kita dan apa yang terjadi pada kita, serta memastikan kebahagiaan bagi diri kita dan orang lain. Kita perlu mengambil tanggung jawab dan menggunakan kemampuan ini untuk mewujudkannya. Dengan menerima bahwa masalah kita berkaitan dengan perbuatan destruktif di masa lampau bukan berarti kita menjadi pasif dalam menghadapi situasi yang membahayakan. Jika kita dapat melakukan sesuatu untuk mencegah atau membenahi situasi yang buruk, kita harus melakukannya! Namun, mengingat bahwa kemalangan ini akibat perbuatan buruk kita, maka kita tidak menjadi marah atau berperang dengan orang lain untuk memperbaiki keadaan. Perbuatan kita juga mempengaruhi tipe tubuh kita saat terlahir di kehidupan mendatang. Perbuatan baik akan memberikan kelahiran kembali yang nyaman, sedangkan perbuatan buruk membawa ketidaknyamanan. Perbuatan baik kita di masa lampau menarik aliran batin kita sehingga terlahir sebagai manusia dengan kondisi yang baik. Sama halnya jika seseorang berlaku buruk, maka jejak yang buruk ini akan menetap dalam aliran batinnya. Pada saat kematian, bila ia meninggal dengan begitu banyak kemelekatan, maka hal ini akan memungkinkan perbuatan buruknya memberikan akibat. Batinnya akan tertarik pada sebuah bentuk kehidupan yang menyedihkan. Karena penyebab perbuatannya buruk, maka hasilnya adalah kelahiran kembali yang malang. Perbuatan kita sebelumnya akan mempengaruhi peristiwa yang kita alami sepanjang kehidupan. Misalnya, bila kita murah hati dalam satu kehidupan maka kita akan mengalami kesejahteraan dalam kehidupan mendatang. Jika kita mencuri, maka kita akan mengalami kondisi ekonomi yang sulit dalam kehidupan mendatang. Dengan menjaga kesadaran terhadap hal tersebut dapat membantu kita memiliki perspektif yang lebih luas tentang alasan di balik peristiwa yang terjadi dalam kehidupan kita. Perbuatan kita yang dulu juga mempengaruhi karakterisitik kepribadian kita. Seseorang yang memiliki kebiasaan mengkritik dan menyakiti orang lain akan dengan mudah melakukannya lagi dalam kehidupan mendatang. Seseorang yang melatih batinnya dengan cinta kasih dan welas asih akan cenderung membawa sifat tersebut di masa mendatang. Beberapa sikap dan reaksi secara otomatis muncul dalam diri kita. Misalnya, sebagian orang mudah tersinggung. Yang lain lagi secara alami begitu memperhatikan orang lain. Kebiasaan yang beragam ini terjadi karena kita telah mengenal pikiran dan perbuatan sejenis di masa lampau. Walaupun kita terpengaruh dengan kecenderungan kebiasaan negatif di masa lampau, namun kebiasaan ini dapat diubah dan diperbaharui, kebiasaan yang positif dapat dikembangkan untuk menggantikannya. Memupuk kegiatan yang positif memberikan keuntungan. Dengan cara ini, kita dapat membentuk kepribadian dan mengembangkan karakter kita. Pada akhirnya, perbuatan kita mempengaruhi lingkungan tempat kita terlahir. Dalam beberapa tahun belakangan ini, orang menjadi lebih sadar akan pengaruh perbuatan kita terhadap lingkungan. Jika kita menyakiti lingkungan untuk kepentingan yang egois, maka kita akan menyakiti diri sendiri. Keserakahan untuk mendapatkan keuntungan lebih membawa manusia bertindak merusak lingkungan kita secara langsung. Menghargai kehidupan akan mengarahkan kita pada pengendalian dan akhirnya menciptakan suatu tempat tinggal yang menyenangkan.

Sabtu, 30 November 2013

Alasan Cowok Sembunyikan Perasaannya?

Cowok selalu diibaratkan sebagai lelaki kuat dan tegar. Cewek menangis adalah hal yang wajar, tapi kalau kita lihat cowok nangis? Hmmm pasti langsung dibilang cengeng dan diledekin oleh teman-temannya. Apalagi penyebab nangisnya karena cinta.
Kebanyakan cowok memiliki personaliti yang tangguh dan jarang menunjukkan perasaan mereka. Untuk sebagian besar cowok, menunjukkan perasaan bisa jadi menunjukkan kelemahan sekaligus. Bahkan disaat putus cinta pun ia akan berusaha tidak sedih dan bahkan membiarkan sih cewek meninggalkannya. Padahal sebenarnya ia sangat sedih dan tetap ingin ceweknya berada disisnya. Hmm kira-kira apa sih alasan cowok seperti itu? Cek dibawah ini criters..
1. Tidak tau apa yang dirasakan
Kebanyakan cowok dikenal sebagai makhluk yang sangat amat tidak peka. Mereka sendiri pun terkadang tidak tau perasaan apa yang sedang mereka hadapi. Saat berdebar-debar, sedih, cemburu, pesimis, rindu dan berbagai emosi asmara lainnya yang sedikit asing bagi mereka. Maka jangan heran kalau kadang-kadang mereka memeluk kamu tanpa bicara apa-apa.
2. Gengsi
Kebanyakan cowok sangatlah gengsian. Mereka lebih baik ditinggal oleh cewek yang sebenarnya sangat ia sayangi daripada ia harus memohon agar sih cewek tetap berada disisinya. Walaupun ia sangat sedih, ia akan berpura-pura baik-baik saja terlebih lagi di depan teman-teman cowoknya.
3. Takut diledek teman-temannya
Banyak cowok yang memperlakukan pacarnya dengan tidak baik hanya karena ia malu dan takut di ledek oleh teman-temannya jika ia terlihat seperti takut dengan pacarnya. Hal sepertilah yang membuat cewek tak tahan berpacaran dengan tipe cowok seperti itu. Padahal sih cowok tidak ada maksud untuk memperlakukan ceweknya dengan tidak baik dan membuat ceweknya tak nyaman berada di dekatnya.
Nah itu dia criters alasan kenapa cowok menyembunyikan perasaannya. Ada baiknya kamu bicarakan berdua dari hati ke hati dengannya. Selamat mencoba criters!

Tapi bagi ane pribadi, ane ga gengsi"an tuh, nyatanya gue pernah nangis di depanmantan gue, sama temen2 gue,..
NB: Malu itu merugikan diri sendiri kawan :)

Pria Lebih Menderita Karena Putus Cinta

Hubungan cinta tidak selamanya berjalan mulus. Ada yang sukses hingga ke jenjang pernikahan dan kemudian membuahkan anak. Namun lebih banyak hubungan cinta yang berakhir prematur dengan kedua pihak kembali menjalankan kehidupan lajangnya masing-masing. Ada yang berakhir baik-baik dengan keduanya saling mengucapkan terima kasih dan masih menjadi teman dekat. Ada pula yang berakhir tidak baik dengan keduanya saling mengucapkan sumpah serapah dan berurai air mata. Bagaimanapun juga, hubungan cinta yang kandas pasti sedikit banyak menimbulkan penderitaan bagi pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Pihak mana sebenarnya yang paling menderita akibat putus cinta?
Prialah yang sebenarnya paling menderita, menurut David Zinczenko, kolumnis majalah Men’s Health. Ia menolak anggapan umum bahwa pria lebih tegar daripada wanita dalam menghadapi putusnya hubungan percintaan. Apa saja alasannya?

Pria Menyembunyikan Perasaannya. Ketika seorang pria diputuskan oleh pasangannya, biasanya ia akan sesumbar: Biar saja, life still goes on. Caranya? 26% pria yang mengisi survei online Men’s Health melakukannya dengan minum-minum bersama teman-temannya. 36% pria akan menatap mantan pacarnya, tersenyum, dan mengucapkan terimakasih. Faktanya, kedua hal tersebut dilakukan pria untuk menutup-nutupi perasaannya. Ini adalah reaksi yang alamiah; gender pria dikondisikan masyarakat untuk tidak gampang menunjukkan perasaan, apalagi perasaan yang membuatnya terlihat lebih lemah. Namun represi ini juga berakibat sulitnya menghilangkan perasaan terluka, marah, atau sedih dari dirinya. Sebaliknya, wanita yang putus cinta biasanya langsung menangis (atau mengekspresikan emosinya) saat itu juga, dan wanita juga cenderung lebih to-the-point ketika mengakhiri hubungan cinta. Akhirnya mereka akan lebih cepat menghilangkan perasaan-perasaan negatif itu dibandingkan pria.
Pria Punya Lebih Sedikit Teman Curhat. Salah satu alasan mengapa wanita lebih cepat pulih dari penderitaan pasca putus cinta daripada pria adalah karena wanita memiliki lebih banyak teman yang bisa diandalkan untuk bercerita. Penelitian menunjukkan bahwa pria mengandalkan hubungan cinta untuk mendapatkan kedekatan emosional dan dukungan sosial, sementara wanita bisa mendapatkan hal yang sama dengan keluarga dan teman sesama wanita. Begitu wanita mengalami putus cinta, ia akan bercerita kepada siapa saja, kalau perlu kepada orang yang tidak dikenal yang duduk di sebelahnya di bis umum, agar perasaannya bisa lebih enak. Pria, di sisi lain, cenderung lebih enggan membuka diri untuk soal ini. Mungkin baru beberapa bulan kemudian, ketika dalam keadaan setengah teler, baru ia berani bercerita kepada teman-teman prianya mengenai betapa inginnya ia kembali lagi dengan si mantan.
Pria Tidak Suka Memulai Dari Awal Lagi. Setelah putus cinta, pada awalnya pria mungkin akan merasa semangat membayangkan wanita-wanita yang akan ia kencani di masa depan. Namun setelah kencan yang keempat, kesembilan, atau ketigabelas kalinya, barulah ia sadar kalau dibutuhkan usaha keras dan waktu yang panjang untuk sampai pada tingkat keintiman yang pernah ia alami bersama mantannya. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa wanita lebih mampu menyesuaikan diri ketika hubungan berakhir karena sebelumnya mereka sudah memikirkan adanya kemungkinan itu, sementara pria biasanya lebih tidak siap dengan putus cinta. Perasaan nyaman secara emosional membuat pria merasa beruntung bisa memiliki seseorang seperti dia. Sayangnya, hal ini seringkali baru disadari ketika si dia sudah berubah status menjadi mantan pacar.
Gambaran Pacaran Pria Yang (Terlalu) Ideal. Banyak kasus putus cinta merupakan reaksi sesaat atas apa yang dirasa sebagai kebosanan; bosan dengan aktivitas, pembicaraan, dan pertengkaran yang itu-itu saja. Kalau kembali melajang, pria mungkin merasa ia akan menjalani hidup yang lebih menarik; tanpa komitmen, bebas pergi ke mana saja, dan bebas bergaul dengan wanita-wanita yang bisa dijadikan pacar baru. Barulah ketika benar-benar melajang ia sadar bahwa hidupnya tidak menjadi seperti itu, bahkan sekarang waktunya tersita oleh pekerjaan. Ia pun kembali merindukan keintiman yang dia alami pada masa pacaran dulu. Penelitian menunjukkan bahwa wanita lebih tinggi skornya daripada pria dalam hal keintiman sosial, seksual, dan intelektual. Dan biasanya wanita juga lebih cepat menyadari bahwa keintiman adalah dasar dari hubungan yang tahan lama, dan bukannya sekedar variasi aktivitas.
Menurut Zinczenko pula, beberapa penelitian menunjukkan bahwa pria lebih rentan mengalami stres, depresi, dan kecemasan ketika putus cinta dibandingkan dengan wanita. Itu menurut dia. Bagaimana pendapat anda? Apakah anda memiliki pengalaman yang membenarkan atau menyangkal pendapat ini?

Karma : Hukum Sebab Akibat

Oleh : Thubten Chodron

Kelahiran kembali yang akan kita jalani setelah meninggal bergantung pada tindakan kita di masa lampau. Hal ini berkaitan dengan fungsi sebab akibat : karma dan akibatnya. Apa yang kita lakukan menjadi penyebab bagi kondisi kita di masa mendatang, dan kondisi kita saat ini adalah akibat dari perbuatan di masa lampau. Karma berarti tindakan yang mengacu pada tindakan melalui tubuh, ucapan dan batin yang disengaja : apa yang kita lakukan, ucapkan, dan pikirkan. Tindakan-tindakan ini meninggalkan jejak dan kecenderungan dalam aliran batin kita. Saat jejak dan kecenderungan ini berada dalam kondisi yang tepat, mereka akan mempengaruhi apa yang kita alami. Pembahasan tentang karma – tindakan dan akibatnya – sejalan dengan ilmu pengetahuan dan psikologi. Para ahli fisika, kimia dan biologi meneliti hukum sebab akibat dan pengaruhnya pada tingkat fisik. Mereka menyelidiki penyebab terciptanya suatu fenomena dan akibat yang dihasilkan ketika hal-hal tertentu berinteraksi dalam suatu cara yang spesifik. Psikolog mencari penyebab gangguan mental dan akibat yang dihasilkan dari pengobatan tertentu. Agama Buddha juga menyelidiki hukum sebab akibat, namun pada tingkat yang lebih halus yakni pada tingkat mental bukan fisik. Agama Buddha juga membahas hukum sebab akibat sepanjang rangkaian kehidupan. Kenyataan bahwa pengalaman hidup kita merupakan hasil dari tindakan kita bukanlah suatu sistem penghargaan dan hukuman. Ketika bunga tumbuh dari bibit, hal itu bukanlah suatu sistem penghargaan atau hukuman bagi bibit. Hanya merupakan akibat semata. Sama halnya ketika tindakan kita membawa kita pada kondisi kehidupan di masa mendatang, ini adalah akibat dari tindakan kita, bukan karena penghargaan atau hukuman. Buddha tidak membuat firman atau daftar pelanggaran yang akan mendapatkan hukuman. Buddha tidak berharap kita mengalami penderitaan, sehingga tidak akan menilai atau menghukum kita. Pengalaman kita yang tidak menyenangkan terjadi akibat perbuatan kita sendiri. Buddha juga tidak menciptakan sistem sebab akibat atau karma, beliau menjelaskan apa yang dilihatnya dengan jelas setelah melenyapkan semua gangguan dari aliran batinnya. Kita mungkin berpikir tidak adilnya kehidupan dimasa kini adalah akibat apa yang kita lakukan di masa lampau. Namun hal ini sesungguhnya tidak berkaitan dengan isu “adil” ataupun “tidak adil”. Kita tidak menyebutnya “tidak adil” ketika suatu objek jatuh ke bawah dan bukan ke atas, karena kita tahu bahwa tidak ada seorang pun yang menciptakan gravitasi. Gravitasi bukanlah sikap pilih kasih orang tertentu. Itu hanyalah hal yang bekerja secara alamiah. Sama hal nya tidak seorang pun membuat aturan bahwa jika kita menyakiti orang lain saat ini, maka kita akan mendapatkan masalah di masa mendatang. Hal ini secara alamiah terjadi sebagai akibat dari suatu penyebab. Karena kita menciptakan sebab, maka kita akan mendapatkan akibat. Buddha tidak dapat meraih batin kita dan mengubahnya. Jika Buddha mampu melakukannya, beliau pasti telah melakukannya karena kasih sayangnya yang tanpa batas. Para guru kita dapat mengajarkan alfabet, namun kita sendiri juga harus mempelajarinya. Mereka tidak dapat belajar mewakili kita. Keindahan potensi manusia terletak pada tanggung jawab kita terhadap pengalaman hidup kita sendiri. Saat hidup di masa sekarang, kita menciptakan masa depan kita. Kita memiliki kemampuan untuk menentukan diri kita dan apa yang terjadi pada kita, serta memastikan kebahagiaan bagi diri kita dan orang lain. Kita perlu mengambil tanggung jawab dan menggunakan kemampuan ini untuk mewujudkannya. Dengan menerima bahwa masalah kita berkaitan dengan perbuatan destruktif di masa lampau bukan berarti kita menjadi pasif dalam menghadapi situasi yang membahayakan. Jika kita dapat melakukan sesuatu untuk mencegah atau membenahi situasi yang buruk, kita harus melakukannya! Namun, mengingat bahwa kemalangan ini akibat perbuatan buruk kita, maka kita tidak menjadi marah atau berperang dengan orang lain untuk memperbaiki keadaan. Perbuatan kita juga mempengaruhi tipe tubuh kita saat terlahir di kehidupan mendatang. Perbuatan baik akan memberikan kelahiran kembali yang nyaman, sedangkan perbuatan buruk membawa ketidaknyamanan. Perbuatan baik kita di masa lampau menarik aliran batin kita sehingga terlahir sebagai manusia dengan kondisi yang baik. Sama halnya jika seseorang berlaku buruk, maka jejak yang buruk ini akan menetap dalam aliran batinnya. Pada saat kematian, bila ia meninggal dengan begitu banyak kemelekatan, maka hal ini akan memungkinkan perbuatan buruknya memberikan akibat. Batinnya akan tertarik pada sebuah bentuk kehidupan yang menyedihkan. Karena penyebab perbuatannya buruk, maka hasilnya adalah kelahiran kembali yang malang. Perbuatan kita sebelumnya akan mempengaruhi peristiwa yang kita alami sepanjang kehidupan. Misalnya, bila kita murah hati dalam satu kehidupan maka kita akan mengalami kesejahteraan dalam kehidupan mendatang. Jika kita mencuri, maka kita akan mengalami kondisi ekonomi yang sulit dalam kehidupan mendatang. Dengan menjaga kesadaran terhadap hal tersebut dapat membantu kita memiliki perspektif yang lebih luas tentang alasan di balik peristiwa yang terjadi dalam kehidupan kita. Perbuatan kita yang dulu juga mempengaruhi karakterisitik kepribadian kita. Seseorang yang memiliki kebiasaan mengkritik dan menyakiti orang lain akan dengan mudah melakukannya lagi dalam kehidupan mendatang. Seseorang yang melatih batinnya dengan cinta kasih dan welas asih akan cenderung membawa sifat tersebut di masa mendatang. Beberapa sikap dan reaksi secara otomatis muncul dalam diri kita. Misalnya, sebagian orang mudah tersinggung. Yang lain lagi secara alami begitu memperhatikan orang lain. Kebiasaan yang beragam ini terjadi karena kita telah mengenal pikiran dan perbuatan sejenis di masa lampau. Walaupun kita terpengaruh dengan kecenderungan kebiasaan negatif di masa lampau, namun kebiasaan ini dapat diubah dan diperbaharui, kebiasaan yang positif dapat dikembangkan untuk menggantikannya. Memupuk kegiatan yang positif memberikan keuntungan. Dengan cara ini, kita dapat membentuk kepribadian dan mengembangkan karakter kita. Pada akhirnya, perbuatan kita mempengaruhi lingkungan tempat kita terlahir. Dalam beberapa tahun belakangan ini, orang menjadi lebih sadar akan pengaruh perbuatan kita terhadap lingkungan. Jika kita menyakiti lingkungan untuk kepentingan yang egois, maka kita akan menyakiti diri sendiri. Keserakahan untuk mendapatkan keuntungan lebih membawa manusia bertindak merusak lingkungan kita secara langsung. Menghargai kehidupan akan mengarahkan kita pada pengendalian dan akhirnya menciptakan suatu tempat tinggal yang menyenangkan.

Hay!!!