Rabu, 05 Maret 2014

Yeeeeeeeeaaaaaaaaaaaaaaaaa~

Dan aku sebenarnya hanya manusia biasa..
Rasa sakit dapat menghujam begitu hebatnya
menyisakan sedikit harapan namun tak bertuan..

Aku tidak berharap aku sempurna, dan aku menyukai diriku yang seperti ini
aku mencintai hidupku, mencintai segala kegiatanku, mencintai mereka semua yang berada disekelilingku.
teorinya, ketika seseorang menghargai kehidupannya apa adanya,, dia merupakan orang paling bahagia di dunia.
Itu teori seorang motivator mungkin. tapi apakah ada yang menyadari bahwa dibalik penghargaan terhadap kehidupan, seseorang mungkin saja merasakan "JENUH"
dan ketika rasa jenuh itu muncul, beribu pertanyaan kemudian berkecamuk di pikiranmu.
"Sampai Kapan?"
aku bahagia, ya. aku mencintai hidupku, ya. dan ketika masalah itu datang aku menganggap itu sebagai batu loncatanku untuk menjadi lebih baik, ya. aku akan selalu mendahulukan pikiran positifku, ya. tapi sampai kapan? aku merasa terlihat lemah di mata orang lain. karena menerima segala sesuatunya dengan apa adanya. itukah? aku salah cara dan itu memang benar. aku salah mengartikan kata menerima. 

semua orang mengharapkan kebahagiaan dalam hidupnya. dan setiap kali aku merasa kekurangan aku akan berfikir bahwa masih banyak orang diluar sana yang bahkan tidak dapat merasakan apa yang aku rasakan. tapi kejenuhan itu seringkali datang seperti hantu yang mengganggu keseharianku. aku bahkan tidak tahu harus melakukan apa, sesuatunya menjadi salah dan tidak tepat. 

Egoku tinggi dan itu aku akui, kekecewaanku terhadap orang-orang disekitar akan sangat terlihat ketika mereka tidak sesuai dengan harapanku. mereka seakan menyakitiku perlahan. hanya karena mereka tahu aku bukan orang yang akan bertindak jauh. mereka meminta maaf, dan aku akan tersenyum. itu berulang, kata maaf menjadi tidak berarti dimataku. semua orang dapat mengucapkan kata maaf semudah itu dihadapanku. meminta maaf atas sesuatu yang mereka tahu, mereka akan mengulangi kesalahan itu lagi. bukankah itu tidak adil? aku menghargai mereka, aku menghormati mereka, tidak pantaskah aku untuk menginginkan mereka sedikit saja mengerti diriku? 

kehidupan tiba-tiba menbuatku muak. aku tertawa tapi entah itu tawa apa. dan yang kulakukan sepanjang hari adalah diam di kamar dan sendiri. Saat itu kesendirian jauh lebih menenangkan. Pada akhirnya, aku merasa teramat sangat kesepian, dengan bodohnya akhirnya aku mengakui aku membutuhkan mereka lebih dari apapun. seburuk apapun itu, aku membutuhkan mereka semua. walaupun dengan kesalahan yang terulang, aku membutuhkan mereka. butuh dan ingin sesuatu yang berbeda,, aku membutuhkan mereka, dan aku menginginkan mereka semua.

Jenuh membuat manusia merasa bahwa kehidupan akan jauh lebih baik ketika kita sendiri. Pada kenyataannya, sejenuh apapun itu, manusia tidak akan bisa hidup sendiri tanpa orang lain. Dan kembali lagi, aku hanya manusia biasa. Melakukan kesalahan dan terus hidup. Melanjutkan segala sesuatunya seakan mencari harta berharga di hari esok. 

Bohong ketika aku bilang aku independen, buktinya,, sama seperti bendera. tidak akan berdiri di langit tanpa tiang penyangga. dan aku tidak akan pernah dapat hidup tanpa ada orang lain yang menemani.

Sabtu, 01 Maret 2014

See You Next Time ({})


Aku terbangun, jam dinding di kamarku menunjukkan pukul 4.00 dan ku tatap layar handphone-ku cukup lama, aku masih mengira bahwa mungkin di saat aku tertidur kau mengirim pesan padaku seperti biasanya, namun ternyata tidak. Ku tatap sekeliling ruang kamarku, masih tertata sama seperti sebelumnya meskipun letak ranjang tidur ku rubah tapi terlihat tetap biasa saja. Aku masih bernafas, jantungku masih berdetak, sarafku masih bekerja dengan normal. Semua masih sama, namun apakah sama dengan yang dirasakan oleh hati ini? Ku rasakan dinginnya pagi ini menusuk tulangku. Ku tarik selimutku untuk menghangatkan tubuhku, namun tetap tak ku temukan kehangatan. Aku justru tenggelam dalam kenanganku bersamanya yang masih sangat membekas dan melekat di hati ini. Aku ingin tersadar dari bayang-bayang yang terlalu sering ku kejar. Sungguh aku tak pernah ingin mengingat kenangan itu lagi. Rasanya aku ingin mengingatkan padamu, tak semua yang baru bisa menciptakan kebahagiaan, tak semua yang baru selalu lebih baik dari yang lama, dan tak semua kenangan di masa lalu adalah kepedihan. Aku percaya pada hal itu, sampai pada akhirnya kita berpisah. Aku melepaskan diriku dari perasaan cinta yang sebenarnya sulit aku hentikan, dari hubungan yang tak pernah ingin aku akhiri. Perpisahan kita awalnya terkesan seperti putus nyambung kita sebelumnya, yang tak pernah benar-benar serius. Sampai aku merasa, apakah kita benar-benar telah berpisah? Namun aku melihatmu menjalani semua ini dengan begitu mudah, hingga aku menjadi ragu akan kata-katamu dulu. Cinta yang dulunya menjadi alasan utama kita bersama, kini menjadi sesuatu yang semu. Kesemuan itu mendekatkan kita, menyatukan kita dalam rasa yang katanya cinta. Ku jalani hari-hariku bersamamu dan aku bahagia. Bahagia? Benarkah? Jika memang kebahagiaan itu tercipta di saat kita bersama, mengapa mereka menganggap kebersamaan kita akan memperburuk keadaan? Jika canda dan tawa itu hadir di saat kita menjalani hari-hari bersana, mengapa kita memilih berpisah sebagai jalan keluar? Dan mengapa aku dan kamu masih bertanya-tanya..kepada Allah SWT dan kepada hati kita masing-masing? Aku masih merasa gelisah dan mengkhawatirkan dirimu, bahkan aku masih sering mencari-cari kabar tentangmu secara diam-diam. Dan aku masih merasa sakit saat tau sudah ada yang mengisi kekosongan hatimu. Memang, tak seharusnya aku merasa seperti itu karna dirimu adalah masa lalu dan itu sudah menjadi hak mu dan bukan menjadi urusanku. Di saat seperti inilah aku mulai goyah, apakah keputusanku untuk menjauhimu adalah salah. Kini aku hanya bisa mendoakan bahagiamu. Sudah tak terhitung berapa frasa kata yang terucap dalam doaku untukmu. Salahku yang terlalu perasa dan terlalu berharap pada dirimu dan pada kita. Namun kenangan-kenangan itu masih tetap memiliki tempat tersendiri di sudut hati ini yang sedang berusaha menatap ke depan dan meraih impian. Hidupku memang berbeda tanpa adanya dirimu, Aku masih berjuang melupakan sosokmu yang tak bisa lagi ku genggam jemari tanganmu. Semoga kau tetap mempesona dengan lakumu yang sederhana. Tetaplah berprestasi dan menjadi yang terbaik. Sampai bertemu kembali, temui takdirmu, temui aku.. *jika takdirmu memang bersamaku

Minggu, 02 Februari 2014

Aminin woooyy -__-

Ya Rabb…
jika kelak aku jatuh cinta lagi,
cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya padaMu agar bertambah kekuatanku tuk mencintaiMu, dan jagalah cintaku padanya agar tak melebihi cintaku padaMu…
Ya Allah…
jika kelak aku jatuh hati lagi,
izinkanlah ku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut padaMu agar tidak terjatuhku dalam jurang cinta semu, dan jagalah hatiku darinya agar ku tak berpaling dari hatiMu…
Ya Tuhanku…
aku tidak meminta seseorang yang sempurna dari sisiMu, tidak ya Rabb…
karena Engkau pun pasti Maha Mengetahui sesungguhnya keadaanku,
Engkau tahu dulu aku ini hanyalah musuhMu yang pernah singgah di jurang nerakaMu,
dan akupun tahu, tiada seorangpun yang sempurna di dunia ini dari kesalahan atau kekurangan,
maka, aku meminta padaMu seorang yang tak sempurna ya Rabb, sehingga ia merasa sempurna ketika diriku hadir dalam kehidupannya karenaMu…
seseorang yang kan kusayangi karena kelembutan hatinya
seseorang yang kan kucintai karena keindahan akhlaknya
seseorang yang kan kukasihi karena kehalusan budinya
seseorang yang kan kukagumi karena kesantunan sikapnya
seseorang yang kan kupuja karena kerendahan hati dan kesederhanaannya
seseorang yang mau menerimaku setulus hatinya…
yang tak akan pernah ku menduakan cintanya hingga akhir hayatku tiba…
seseorang yang kan ku hibur hatinya bila ia bersedih
seseorang yang kan ku seka air matanya ketika dia menangis
seseorang yang kan ku jadikan pundakku tempatnya bersandar saat dia lelah
seseorang yang kan ku dengar seksama segala kesahnya
seseorang yang kan ku pertaruhkan nyawaku demi menjaga kehormatannya
seseorang yang ketulusan dan kesetiaan hati ini hanyalah untuknya…
yang kan slalu kujanjikan membersamainya hingga malaikat maut menjemputku tiba…
Ya Rabb…
wahai Tuhan yang memegang rahasia segala sesuatu,
jadikanlah aku ridha terhadap apa-apa yang Engkau tetapkan dan jadikan barakah apa-apa yang Engkau takdirkan, sehingga tak ingin ku menyegerakan apa-apa yang masih Engkau tunda, atau menunda apa-apa yang Engkau segerakan…
wahai Tuhan yang memegang hikmah segala sesuatu,
andai Engkau berkehendak lain,
sesungguhnya sebenar-benarnya kehidupan adalah kehidupan akhirat,
maka jadikanlah kehendakMu… bukan kehendakku…
sesungguhnya aku tidak mengetahui, sedangkan Engkau Maha Mengetahui,
takdirkanlah kebaikan bagiku dimanapun adanya, dan jadikanlah hatiku meridhainya…
Amin…

Rabu, 05 Maret 2014

Yeeeeeeeeaaaaaaaaaaaaaaaaa~

Dan aku sebenarnya hanya manusia biasa..
Rasa sakit dapat menghujam begitu hebatnya
menyisakan sedikit harapan namun tak bertuan..

Aku tidak berharap aku sempurna, dan aku menyukai diriku yang seperti ini
aku mencintai hidupku, mencintai segala kegiatanku, mencintai mereka semua yang berada disekelilingku.
teorinya, ketika seseorang menghargai kehidupannya apa adanya,, dia merupakan orang paling bahagia di dunia.
Itu teori seorang motivator mungkin. tapi apakah ada yang menyadari bahwa dibalik penghargaan terhadap kehidupan, seseorang mungkin saja merasakan "JENUH"
dan ketika rasa jenuh itu muncul, beribu pertanyaan kemudian berkecamuk di pikiranmu.
"Sampai Kapan?"
aku bahagia, ya. aku mencintai hidupku, ya. dan ketika masalah itu datang aku menganggap itu sebagai batu loncatanku untuk menjadi lebih baik, ya. aku akan selalu mendahulukan pikiran positifku, ya. tapi sampai kapan? aku merasa terlihat lemah di mata orang lain. karena menerima segala sesuatunya dengan apa adanya. itukah? aku salah cara dan itu memang benar. aku salah mengartikan kata menerima. 

semua orang mengharapkan kebahagiaan dalam hidupnya. dan setiap kali aku merasa kekurangan aku akan berfikir bahwa masih banyak orang diluar sana yang bahkan tidak dapat merasakan apa yang aku rasakan. tapi kejenuhan itu seringkali datang seperti hantu yang mengganggu keseharianku. aku bahkan tidak tahu harus melakukan apa, sesuatunya menjadi salah dan tidak tepat. 

Egoku tinggi dan itu aku akui, kekecewaanku terhadap orang-orang disekitar akan sangat terlihat ketika mereka tidak sesuai dengan harapanku. mereka seakan menyakitiku perlahan. hanya karena mereka tahu aku bukan orang yang akan bertindak jauh. mereka meminta maaf, dan aku akan tersenyum. itu berulang, kata maaf menjadi tidak berarti dimataku. semua orang dapat mengucapkan kata maaf semudah itu dihadapanku. meminta maaf atas sesuatu yang mereka tahu, mereka akan mengulangi kesalahan itu lagi. bukankah itu tidak adil? aku menghargai mereka, aku menghormati mereka, tidak pantaskah aku untuk menginginkan mereka sedikit saja mengerti diriku? 

kehidupan tiba-tiba menbuatku muak. aku tertawa tapi entah itu tawa apa. dan yang kulakukan sepanjang hari adalah diam di kamar dan sendiri. Saat itu kesendirian jauh lebih menenangkan. Pada akhirnya, aku merasa teramat sangat kesepian, dengan bodohnya akhirnya aku mengakui aku membutuhkan mereka lebih dari apapun. seburuk apapun itu, aku membutuhkan mereka semua. walaupun dengan kesalahan yang terulang, aku membutuhkan mereka. butuh dan ingin sesuatu yang berbeda,, aku membutuhkan mereka, dan aku menginginkan mereka semua.

Jenuh membuat manusia merasa bahwa kehidupan akan jauh lebih baik ketika kita sendiri. Pada kenyataannya, sejenuh apapun itu, manusia tidak akan bisa hidup sendiri tanpa orang lain. Dan kembali lagi, aku hanya manusia biasa. Melakukan kesalahan dan terus hidup. Melanjutkan segala sesuatunya seakan mencari harta berharga di hari esok. 

Bohong ketika aku bilang aku independen, buktinya,, sama seperti bendera. tidak akan berdiri di langit tanpa tiang penyangga. dan aku tidak akan pernah dapat hidup tanpa ada orang lain yang menemani.

Sabtu, 01 Maret 2014

See You Next Time ({})


Aku terbangun, jam dinding di kamarku menunjukkan pukul 4.00 dan ku tatap layar handphone-ku cukup lama, aku masih mengira bahwa mungkin di saat aku tertidur kau mengirim pesan padaku seperti biasanya, namun ternyata tidak. Ku tatap sekeliling ruang kamarku, masih tertata sama seperti sebelumnya meskipun letak ranjang tidur ku rubah tapi terlihat tetap biasa saja. Aku masih bernafas, jantungku masih berdetak, sarafku masih bekerja dengan normal. Semua masih sama, namun apakah sama dengan yang dirasakan oleh hati ini? Ku rasakan dinginnya pagi ini menusuk tulangku. Ku tarik selimutku untuk menghangatkan tubuhku, namun tetap tak ku temukan kehangatan. Aku justru tenggelam dalam kenanganku bersamanya yang masih sangat membekas dan melekat di hati ini. Aku ingin tersadar dari bayang-bayang yang terlalu sering ku kejar. Sungguh aku tak pernah ingin mengingat kenangan itu lagi. Rasanya aku ingin mengingatkan padamu, tak semua yang baru bisa menciptakan kebahagiaan, tak semua yang baru selalu lebih baik dari yang lama, dan tak semua kenangan di masa lalu adalah kepedihan. Aku percaya pada hal itu, sampai pada akhirnya kita berpisah. Aku melepaskan diriku dari perasaan cinta yang sebenarnya sulit aku hentikan, dari hubungan yang tak pernah ingin aku akhiri. Perpisahan kita awalnya terkesan seperti putus nyambung kita sebelumnya, yang tak pernah benar-benar serius. Sampai aku merasa, apakah kita benar-benar telah berpisah? Namun aku melihatmu menjalani semua ini dengan begitu mudah, hingga aku menjadi ragu akan kata-katamu dulu. Cinta yang dulunya menjadi alasan utama kita bersama, kini menjadi sesuatu yang semu. Kesemuan itu mendekatkan kita, menyatukan kita dalam rasa yang katanya cinta. Ku jalani hari-hariku bersamamu dan aku bahagia. Bahagia? Benarkah? Jika memang kebahagiaan itu tercipta di saat kita bersama, mengapa mereka menganggap kebersamaan kita akan memperburuk keadaan? Jika canda dan tawa itu hadir di saat kita menjalani hari-hari bersana, mengapa kita memilih berpisah sebagai jalan keluar? Dan mengapa aku dan kamu masih bertanya-tanya..kepada Allah SWT dan kepada hati kita masing-masing? Aku masih merasa gelisah dan mengkhawatirkan dirimu, bahkan aku masih sering mencari-cari kabar tentangmu secara diam-diam. Dan aku masih merasa sakit saat tau sudah ada yang mengisi kekosongan hatimu. Memang, tak seharusnya aku merasa seperti itu karna dirimu adalah masa lalu dan itu sudah menjadi hak mu dan bukan menjadi urusanku. Di saat seperti inilah aku mulai goyah, apakah keputusanku untuk menjauhimu adalah salah. Kini aku hanya bisa mendoakan bahagiamu. Sudah tak terhitung berapa frasa kata yang terucap dalam doaku untukmu. Salahku yang terlalu perasa dan terlalu berharap pada dirimu dan pada kita. Namun kenangan-kenangan itu masih tetap memiliki tempat tersendiri di sudut hati ini yang sedang berusaha menatap ke depan dan meraih impian. Hidupku memang berbeda tanpa adanya dirimu, Aku masih berjuang melupakan sosokmu yang tak bisa lagi ku genggam jemari tanganmu. Semoga kau tetap mempesona dengan lakumu yang sederhana. Tetaplah berprestasi dan menjadi yang terbaik. Sampai bertemu kembali, temui takdirmu, temui aku.. *jika takdirmu memang bersamaku

Minggu, 02 Februari 2014

Aminin woooyy -__-

Ya Rabb…
jika kelak aku jatuh cinta lagi,
cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya padaMu agar bertambah kekuatanku tuk mencintaiMu, dan jagalah cintaku padanya agar tak melebihi cintaku padaMu…
Ya Allah…
jika kelak aku jatuh hati lagi,
izinkanlah ku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut padaMu agar tidak terjatuhku dalam jurang cinta semu, dan jagalah hatiku darinya agar ku tak berpaling dari hatiMu…
Ya Tuhanku…
aku tidak meminta seseorang yang sempurna dari sisiMu, tidak ya Rabb…
karena Engkau pun pasti Maha Mengetahui sesungguhnya keadaanku,
Engkau tahu dulu aku ini hanyalah musuhMu yang pernah singgah di jurang nerakaMu,
dan akupun tahu, tiada seorangpun yang sempurna di dunia ini dari kesalahan atau kekurangan,
maka, aku meminta padaMu seorang yang tak sempurna ya Rabb, sehingga ia merasa sempurna ketika diriku hadir dalam kehidupannya karenaMu…
seseorang yang kan kusayangi karena kelembutan hatinya
seseorang yang kan kucintai karena keindahan akhlaknya
seseorang yang kan kukasihi karena kehalusan budinya
seseorang yang kan kukagumi karena kesantunan sikapnya
seseorang yang kan kupuja karena kerendahan hati dan kesederhanaannya
seseorang yang mau menerimaku setulus hatinya…
yang tak akan pernah ku menduakan cintanya hingga akhir hayatku tiba…
seseorang yang kan ku hibur hatinya bila ia bersedih
seseorang yang kan ku seka air matanya ketika dia menangis
seseorang yang kan ku jadikan pundakku tempatnya bersandar saat dia lelah
seseorang yang kan ku dengar seksama segala kesahnya
seseorang yang kan ku pertaruhkan nyawaku demi menjaga kehormatannya
seseorang yang ketulusan dan kesetiaan hati ini hanyalah untuknya…
yang kan slalu kujanjikan membersamainya hingga malaikat maut menjemputku tiba…
Ya Rabb…
wahai Tuhan yang memegang rahasia segala sesuatu,
jadikanlah aku ridha terhadap apa-apa yang Engkau tetapkan dan jadikan barakah apa-apa yang Engkau takdirkan, sehingga tak ingin ku menyegerakan apa-apa yang masih Engkau tunda, atau menunda apa-apa yang Engkau segerakan…
wahai Tuhan yang memegang hikmah segala sesuatu,
andai Engkau berkehendak lain,
sesungguhnya sebenar-benarnya kehidupan adalah kehidupan akhirat,
maka jadikanlah kehendakMu… bukan kehendakku…
sesungguhnya aku tidak mengetahui, sedangkan Engkau Maha Mengetahui,
takdirkanlah kebaikan bagiku dimanapun adanya, dan jadikanlah hatiku meridhainya…
Amin…

Hay!!!