Minggu, 26 Januari 2014

Surat Untukku Di Masa Depan~

Sebelum saya nulis surat ini, saya teringat ketika dulu saya masih kecil ,bau kencur, ingusan (tapi sekarang udah keren) :D

Rasanya menarik untuk membayangkan, apa yang ingin saya sampaikan pada diri saya di masa depan. Apalagi mengingat kalau saya seringnya merasa malu saat membaca tulisan saya di masa lampau. Sering juga sih melihat tulisan saya yang lama dan berasa,’Aih, ternyata saya romantis,ya!’ #jangandijitak

Surat ini saya buat untuk diri saya di 10 tahun mendatang. Sampai saat ini, saya masih bingung mau bilang apa ke diri saya di 10 tahun mendatang. Jadi, dibiarkan mengalir apa adanya aja dan semoga saja saya tidak menyesal membacanya 10 tahun setelah ini.

(*)

Dear Mr. Bagus Adjie,

Aku ingin meminta maaf padamu atas semua kesalahanku jika tindakanku di masa lalu dan kini membuat kau susah… Lihatlah betapa berat tugas yang ku pikulkan untukmu di masa depan…tapi janganlah semua itu kau anggap beban…jadikan semua itu terlihat sederhana…
Sesederhana niatmu membahagiakan mereka…keluargamu dan orang2 yang kau sayangi… tapi aku yakin kau adalah orang yang kuat dan mampu melalui semua masalah dengan izinNya…
Saat kau membaca ini…aku harap kau telah bersama dengan seseorang yang kau cintai karena Allah…yang membuatmu bahagia dan mampu mendorongmu menjadi pribadi yang baik di masa depan…seperti yang selalu terlantun dalam harap dan doamu ketika kau sujud dan menengadahkan tangan di hadapanNya…
Ku mohon jaga mereka dengan segenap usahamu…bahagiakan mereka setiap waktu…bimbing mereka ke jalan hidayahNya karena kau adalah pemimpin mereka…jadilah bijaksana…

Kalau begitu, gimana kalau sekarang saya tulis aja, apa yang saya harapkan untuk dapat dicapai dalam waktu 10 tahun? Meniru Bapak Pembangunan, saya akan membuat REALITA alias Rencana Aksi 10 Tahun alias rencana apa yang akan saya capai dalam waktu 10 tahun. Singkatannya maksa? Biarin.
That is why, saya berharap bahwa saya di 10 tahun yang akan datang sudah bisa menemukan orang yang bisa membuat saya percaya dengan kekuatan cinta. Semoga, Mr. Bagus Adjie (mulai dari sini saya akan menyebutmu demikian, wahai diri saya di masa depan) sudah bertemu dengan pasangan yang tepat tersebut.

Dan, meski pun ternyata kamu masih belum bisa menemukannya, no worries. At least, tetaplah percaya bahwa tidak akan ada orang yang sempurna untuk menjadi pasanganmu. Tapi, bukan berarti bahwa kamu harus merendahkan diri dan menerima ‘siapa saja’ untuk menjadi pasangan. Cinta bisa menunggu, kesalahan tidak. You know what I mean, right? ;)

Saya juga mau mengingatkan ke kamu kalau kamu tidak pernah sendirian. Selalu ingat bahwa kamu masih berada di dunia, setidaknya pada hari aku menulis surat ini, 26 Januari 2014, karena kamu sangat dikasihi. Oleh Tuhan, oleh keluargamu dan oleh teman-temanmu.

10 tahun dari sekarang, kalau kamu masih berkesempatan membaca surat ini (hey, kita kan enggak pernah tahu umur manusia!) jangan pernah bosan untuk bersyukur atas waktu yang kamu punya.

Selalu ingat bahwa tanpa pertolongan Tuhan, kamu mungkin tidak bisa membaca surat ini. Bahkan, saya mungkin tidak bisa menuliskan surat ini untukmu, Mr. Bagus Adjie.

Setiap kamu merasa sendiri, ingatlah bahwa hidupmu adalah bukti nyata, kamu tidak pernah sendirian dan betapa besar Tuhan mengasihi kamu.

Ingat bagaimana kamu pernah meminta agar Tuhan menghentikan perjuanganmu. Ingat bagaimana kau tersadar bahwa kau perlu terus berjuang agar kamu bisa membalas cinta dari keluargamu yang tak pernah berhenti berharap, bahkan saat harapan itu sendiri seolah menjauh. Ingat bahwa kau pernah merasa bersyukur karena meski kau menderita, kau punya keluarga yang selalu mendukungmu.

Hidup tidak akan pernah menjadi mudah. Kita yang harus menjadi kuat. Dan, kita memang akan kuat karena iman, pengharapan dan kasih yang kita punya.

Make me proud, Mr. Bagus Adjie.

Masa lalu bukanlah suatu hal yang harus disesalkan, tetapi untuk menjadi pembelajaran. Jangan berusaha mengubah masa lalu, ciptakanlah masa depan sesuai dengan harapanmu.

Cheers!



Rabu, 15 Januari 2014

Bagian Otak Manusia yg Membuat Dusta.

Bagian Otak Manusia yang Membuat Dusta

Selama ini, para ilmuwan tidak mengetahui di bagian otak mana pada manusia yang paling bertanggung jawab terhadap sebuah dusta atau kebohongan. Orang hanya tahu kalau dusta itu muncul dari sebuah ucapan, tapi tidak mengetahui kalau itu ada hubungannya dengan bagian tertentu dalam otak.
Setelah melakukan penelitian, akhirnya para ilmuwan menemukan sebuah kesimpulan. Bahwa, otak bagian depan yang terletak pada ubun-ubun itulah yang paling bertanggung jawab terhadap terjadinya DUSTA.
Kesimpulan ini, sebenarnya tergolong sangat telat jika dibandingkan dengan apa yang sudah diisyaratkan oleh Allah swt. dalam firman-Nya dalam Alquran. Bagian otak tersebut disebut Alquran dengan nama ‘nashiyah’atau ubun-ubun.
Yang mengagumkan adalah bahwa Al-Quran sejak berabad-abad yang lalu telah berbicara tentang fungsi ubun-ubun ini ketika membicarakan Abu Jahl:
Allah swt. berfirman dalam Surah Al-‘Alaq ayat 15 dan 16.
“Ketahuilah, sungguh jika Dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.
Al-Quran memberikan sifat “naashiyatin kaadzibah” (mendustakan lagi durhaka). Kenyataan seperti inilah yang ditemukan para ilmuwan pada masa sekarang ini dengan menggunakan pemindaian resonansi magnetik.
Maha Suci Allah Yang telah menyatakan fakta ini yang menunjukkan kemukjizatan Al-Quran yang baru ditemukan pada masa sekarang ini.

Selasa, 07 Januari 2014

Terjebak saat Mendaki, Aron Ralston Memotong Tangannya sendiri saat tangannya terjepit Batu selama 127 Jam.



http://www.youtube.com/watch?v=2Vo3INoJZLA (ini Videonya)

Aron Ralston, seperti biasa melakukan pendakian rutinnya di hari Sabtu seorang diri. Ia berencana untuk menghabiskan hari dengan mengendarai sepeda gunung dan mendaki batu-batu merah dan pasir di luar Taman Nasional Canyonlands di Utah tenggara. Ralston berasal dari Aspen, Colorado, adalah sarjana teknik dan musik yang pernah bekerja selama lima tahun di Intel.
Ralston sendiri telah mendaki tempat itu berkali-kali dan kali ini dia melakukannya sebagai pemanasan untuk sebuah pendakian gunung tertinggi di Amerika Utara. Mengenakan T-shirt dan celana pendek dan membawa ransel ia berencana untuk melakukan ‘Canyoneering’ jauh ke ngarai Bluejohn Canyon. Ranselnya berisi dua burrito (makanan khas Meksiko), satu liter air, alat multi fungsi tapi imitasi bermerek Leatherman, alat P3K, kamera video, kamera digital dan peralatan panjat tebing. Dia tidak membawa jaket. Canyoneering adalah melakukan perjalanan ke ngarai dengan menggunakan berbagai skill : berjalan, mendaki, memanjat tebing dengan menggunakan berbagai peralatan. Canyoneering yang dilakukan Ralston adalah melewati lembah yang bercelah sempit.
Ralston berada 150 meter di atas puncak dinding vertikal Bluejohn Canyon. Dia melakukan manuvernya untuk mencapai bagian atas sebuah batu besar yang terselip di antara dinding ngarai sempit. Dia mulai memanjat permukaan batu dan rasanya sangat stabil ketika ia berdiri di atas. Ketika ia mulai turun di sisi yang berlawanan, batu seberat 800-pound (kurang lebih 362 kg) itu tiba-tiba bergeser, menjepit lengan kanannya – ia terjebak.
Saat terjebak dengan tangan yang terhimpit batu, dia memiliki beberapa pilihan :antara menunggu seseorang yang muncul untuk menyelamatkannya, membebaskan dirinya sendiri, atau kalau semua cara gagal dia akan memutuskan lengannya. Kematian adalah kemungkinan yang terakhir tapi Ralston tidak ingin mempertimbangkannya.
Ralston mencoba tali, jangkar dan alat yang ada untuk memindahkan batu, hasilnya batunya tidak bergerak sedikitpun. Berjam-jam jam dia berjuang untuk membebaskan dirinya dari batu tanpa hasil yang posisitf. Di malam hari temperaturnya turun, Ralston masih bekerja untuk membebaskan dirinya sendiri. Minggu dan Senin berlalu, tapi ia masih terjebak. Sinar matahari sampai di lantai ngarai sempit hanya untuk waktu yang sangat singkat waktu setiap hari. Dia kehabisan makanan dan air pada hari Selasa.
Pada hari Rabu, Ralston mulai menghirup air seni yang telah ia simpan di hari sebelumnya. Dia mengeluarkan video kamera dan merekam pesan terakhir berisi selamat tinggal kepada orang tuanya. Dia lalu mengukir namanya, tanggal lahir, dan apa yang dia yakin adalah hari terakhirnya di bumi ke dinding ngarai. Di atasnya dia mengukir RIP.
Pada Kamis pagi, Ralston melihat suatu visi (penampakan?) yaitu seorang anak 3 tahun berlari lalu dibawa oleh seorang pria yang hanya memiliki sebuah lengan. Dia mengerti visi itu bahwa anak itu akan menjadi anak di masa depannya dan dia memutuskan untuk melakukan tindakan yang segera agar hidupnya bisa bertahan. Jika ia tidak menyelamatkan dirinya sekarang, dia tidak akan memiliki kekuatan fisik yang tersisa untuk melakukannya nanti. Akhirnya dia mengambil keputusan yang dramatis : memotong tangannya sendiri!
Ralston siap untuk mengamputasi lengan kanan di bawah siku dengan menggunakan pisau multi fungsinya. Menyadari bahwa pisau itu tidak cukup tajam untuk memotong tulang lengan ia menekan tangannya melawan batu dan mematahkan tulangnya sehingga dia akan bisa memotong tangannya melalui jaringan. Pertama ia mematahkan tulang radius, yang menghubungkan siku dengan jempol. Dalam beberapa menit ia memecahkan ulna, tulang di bagian luar lengan bawah. Selanjutnya ia menerapkan tourniquet yaitu membebat atau mengikat erat lengannya. Dia menggunakan pisau untuk mengamputasi lengan kanan di bawah siku. Seluruh prosedur dibutuhkan kurang lebih satu jam.
Ralston memberikan pertolongan pertama untuk dirinya sendiri dari kit kecil di ransel. Ia menancapkan jangkar dengan tali di tempat itu. Ia kemudian mendaki 5 mil ke hilir Horseshoe Canyon yang berdekatan, di mana ia bertemu dengan keluarga wisatawan dari Belanda yang sedang berlibur.
Pasangan Belanda Eric dan Monique Meijer dan putra mereka, Andy, mulai keluar dari ngarai ketika mendengar suara di belakang “Tolong, saya butuh bantuan”. Pasangan itu segera menyadari bahwa dia pasti seorang pendaki yang hilang seperti keterangan dari petugas sehari sebelumnya..
Ralston berjalan cepat menuju pasangan ini dengan lengannya yang digantung di sling buatan sendiri dan ia berbicara dengan jelas: “Halo, nama saya Aron, saya jatuh dari tebing pada hari Sabtu dan saya terjebak di bawah batu besar. Saya memotong tangan saya empat. jam yang lalu dan saya memerlukan pertolongan medis. Saya butuh helikopter “.
Istri dan anak Eric mencoba untuk keluar lebih dulu dari ngarai secepat mungkin untuk mendapatkan bantuan. Eric bersama dengan Aron untukn memberikan dia makanan, air dan dukungan mental. Meskipun kehilangan darah, Ralston tetap mampu berjalan tapi pasir di dalam sepatunya mulai mengganggu dia. Dia berhenti sejenak di tempat yang teduh untuk menghilangkkan pasir dalam sepatunya lalu melanjutkan perjalannnya lagi.
Tiba-tiba awak pesawat melihat dua orang di Horseshoe Canyon melambai. Ini adalah istrinya Eric dan anaknya dan mereka memberikan sinyal ke arah helikopter dan menunjuk ke arah korban. Awak pesawat merespon dengan cepat dan mendarat di tempat yang luas di lembah dekat Ralston. Kru pesawat terkejut saat melihat – lapisan darah kering dan segar tubuhnya – dan lengan yang hilang.
Ralston menyandarkan kepalanya kembali helikopter dan menghirup air. Vetere mengajaknya ngobrol, sehingga dia tidak akan kehilangan kesadaran. Dua belas menit kemudian, helikopter tiba di Allen Memorial Hospital di Moab, Utah. Ralston masuk ke ruang gawat darurat tanpa bantuan, kemudian menunjuk pada peta di mana dia telah terjebak.
Para penyelamat heran Ralston tetap hidup. Sebuah helikopter kemungkinan besar tidak akan menemukannya karena posisinya di celah lembah yang dalam dan sempit. Aron Ralston memiliki semangat luar biasa untuk hidup, dia tidak pernah menyerah dan akhirnya dia selamat.
Kisah Ralston sendiri sudah diangkat ke layar lebar dengan judul “127 Hours” dengan pemerannya James Franco.

Minggu, 26 Januari 2014

Surat Untukku Di Masa Depan~

Sebelum saya nulis surat ini, saya teringat ketika dulu saya masih kecil ,bau kencur, ingusan (tapi sekarang udah keren) :D

Rasanya menarik untuk membayangkan, apa yang ingin saya sampaikan pada diri saya di masa depan. Apalagi mengingat kalau saya seringnya merasa malu saat membaca tulisan saya di masa lampau. Sering juga sih melihat tulisan saya yang lama dan berasa,’Aih, ternyata saya romantis,ya!’ #jangandijitak

Surat ini saya buat untuk diri saya di 10 tahun mendatang. Sampai saat ini, saya masih bingung mau bilang apa ke diri saya di 10 tahun mendatang. Jadi, dibiarkan mengalir apa adanya aja dan semoga saja saya tidak menyesal membacanya 10 tahun setelah ini.

(*)

Dear Mr. Bagus Adjie,

Aku ingin meminta maaf padamu atas semua kesalahanku jika tindakanku di masa lalu dan kini membuat kau susah… Lihatlah betapa berat tugas yang ku pikulkan untukmu di masa depan…tapi janganlah semua itu kau anggap beban…jadikan semua itu terlihat sederhana…
Sesederhana niatmu membahagiakan mereka…keluargamu dan orang2 yang kau sayangi… tapi aku yakin kau adalah orang yang kuat dan mampu melalui semua masalah dengan izinNya…
Saat kau membaca ini…aku harap kau telah bersama dengan seseorang yang kau cintai karena Allah…yang membuatmu bahagia dan mampu mendorongmu menjadi pribadi yang baik di masa depan…seperti yang selalu terlantun dalam harap dan doamu ketika kau sujud dan menengadahkan tangan di hadapanNya…
Ku mohon jaga mereka dengan segenap usahamu…bahagiakan mereka setiap waktu…bimbing mereka ke jalan hidayahNya karena kau adalah pemimpin mereka…jadilah bijaksana…

Kalau begitu, gimana kalau sekarang saya tulis aja, apa yang saya harapkan untuk dapat dicapai dalam waktu 10 tahun? Meniru Bapak Pembangunan, saya akan membuat REALITA alias Rencana Aksi 10 Tahun alias rencana apa yang akan saya capai dalam waktu 10 tahun. Singkatannya maksa? Biarin.
That is why, saya berharap bahwa saya di 10 tahun yang akan datang sudah bisa menemukan orang yang bisa membuat saya percaya dengan kekuatan cinta. Semoga, Mr. Bagus Adjie (mulai dari sini saya akan menyebutmu demikian, wahai diri saya di masa depan) sudah bertemu dengan pasangan yang tepat tersebut.

Dan, meski pun ternyata kamu masih belum bisa menemukannya, no worries. At least, tetaplah percaya bahwa tidak akan ada orang yang sempurna untuk menjadi pasanganmu. Tapi, bukan berarti bahwa kamu harus merendahkan diri dan menerima ‘siapa saja’ untuk menjadi pasangan. Cinta bisa menunggu, kesalahan tidak. You know what I mean, right? ;)

Saya juga mau mengingatkan ke kamu kalau kamu tidak pernah sendirian. Selalu ingat bahwa kamu masih berada di dunia, setidaknya pada hari aku menulis surat ini, 26 Januari 2014, karena kamu sangat dikasihi. Oleh Tuhan, oleh keluargamu dan oleh teman-temanmu.

10 tahun dari sekarang, kalau kamu masih berkesempatan membaca surat ini (hey, kita kan enggak pernah tahu umur manusia!) jangan pernah bosan untuk bersyukur atas waktu yang kamu punya.

Selalu ingat bahwa tanpa pertolongan Tuhan, kamu mungkin tidak bisa membaca surat ini. Bahkan, saya mungkin tidak bisa menuliskan surat ini untukmu, Mr. Bagus Adjie.

Setiap kamu merasa sendiri, ingatlah bahwa hidupmu adalah bukti nyata, kamu tidak pernah sendirian dan betapa besar Tuhan mengasihi kamu.

Ingat bagaimana kamu pernah meminta agar Tuhan menghentikan perjuanganmu. Ingat bagaimana kau tersadar bahwa kau perlu terus berjuang agar kamu bisa membalas cinta dari keluargamu yang tak pernah berhenti berharap, bahkan saat harapan itu sendiri seolah menjauh. Ingat bahwa kau pernah merasa bersyukur karena meski kau menderita, kau punya keluarga yang selalu mendukungmu.

Hidup tidak akan pernah menjadi mudah. Kita yang harus menjadi kuat. Dan, kita memang akan kuat karena iman, pengharapan dan kasih yang kita punya.

Make me proud, Mr. Bagus Adjie.

Masa lalu bukanlah suatu hal yang harus disesalkan, tetapi untuk menjadi pembelajaran. Jangan berusaha mengubah masa lalu, ciptakanlah masa depan sesuai dengan harapanmu.

Cheers!



Rabu, 15 Januari 2014

Bagian Otak Manusia yg Membuat Dusta.

Bagian Otak Manusia yang Membuat Dusta

Selama ini, para ilmuwan tidak mengetahui di bagian otak mana pada manusia yang paling bertanggung jawab terhadap sebuah dusta atau kebohongan. Orang hanya tahu kalau dusta itu muncul dari sebuah ucapan, tapi tidak mengetahui kalau itu ada hubungannya dengan bagian tertentu dalam otak.
Setelah melakukan penelitian, akhirnya para ilmuwan menemukan sebuah kesimpulan. Bahwa, otak bagian depan yang terletak pada ubun-ubun itulah yang paling bertanggung jawab terhadap terjadinya DUSTA.
Kesimpulan ini, sebenarnya tergolong sangat telat jika dibandingkan dengan apa yang sudah diisyaratkan oleh Allah swt. dalam firman-Nya dalam Alquran. Bagian otak tersebut disebut Alquran dengan nama ‘nashiyah’atau ubun-ubun.
Yang mengagumkan adalah bahwa Al-Quran sejak berabad-abad yang lalu telah berbicara tentang fungsi ubun-ubun ini ketika membicarakan Abu Jahl:
Allah swt. berfirman dalam Surah Al-‘Alaq ayat 15 dan 16.
“Ketahuilah, sungguh jika Dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.
Al-Quran memberikan sifat “naashiyatin kaadzibah” (mendustakan lagi durhaka). Kenyataan seperti inilah yang ditemukan para ilmuwan pada masa sekarang ini dengan menggunakan pemindaian resonansi magnetik.
Maha Suci Allah Yang telah menyatakan fakta ini yang menunjukkan kemukjizatan Al-Quran yang baru ditemukan pada masa sekarang ini.

Selasa, 07 Januari 2014

Terjebak saat Mendaki, Aron Ralston Memotong Tangannya sendiri saat tangannya terjepit Batu selama 127 Jam.



http://www.youtube.com/watch?v=2Vo3INoJZLA (ini Videonya)

Aron Ralston, seperti biasa melakukan pendakian rutinnya di hari Sabtu seorang diri. Ia berencana untuk menghabiskan hari dengan mengendarai sepeda gunung dan mendaki batu-batu merah dan pasir di luar Taman Nasional Canyonlands di Utah tenggara. Ralston berasal dari Aspen, Colorado, adalah sarjana teknik dan musik yang pernah bekerja selama lima tahun di Intel.
Ralston sendiri telah mendaki tempat itu berkali-kali dan kali ini dia melakukannya sebagai pemanasan untuk sebuah pendakian gunung tertinggi di Amerika Utara. Mengenakan T-shirt dan celana pendek dan membawa ransel ia berencana untuk melakukan ‘Canyoneering’ jauh ke ngarai Bluejohn Canyon. Ranselnya berisi dua burrito (makanan khas Meksiko), satu liter air, alat multi fungsi tapi imitasi bermerek Leatherman, alat P3K, kamera video, kamera digital dan peralatan panjat tebing. Dia tidak membawa jaket. Canyoneering adalah melakukan perjalanan ke ngarai dengan menggunakan berbagai skill : berjalan, mendaki, memanjat tebing dengan menggunakan berbagai peralatan. Canyoneering yang dilakukan Ralston adalah melewati lembah yang bercelah sempit.
Ralston berada 150 meter di atas puncak dinding vertikal Bluejohn Canyon. Dia melakukan manuvernya untuk mencapai bagian atas sebuah batu besar yang terselip di antara dinding ngarai sempit. Dia mulai memanjat permukaan batu dan rasanya sangat stabil ketika ia berdiri di atas. Ketika ia mulai turun di sisi yang berlawanan, batu seberat 800-pound (kurang lebih 362 kg) itu tiba-tiba bergeser, menjepit lengan kanannya – ia terjebak.
Saat terjebak dengan tangan yang terhimpit batu, dia memiliki beberapa pilihan :antara menunggu seseorang yang muncul untuk menyelamatkannya, membebaskan dirinya sendiri, atau kalau semua cara gagal dia akan memutuskan lengannya. Kematian adalah kemungkinan yang terakhir tapi Ralston tidak ingin mempertimbangkannya.
Ralston mencoba tali, jangkar dan alat yang ada untuk memindahkan batu, hasilnya batunya tidak bergerak sedikitpun. Berjam-jam jam dia berjuang untuk membebaskan dirinya dari batu tanpa hasil yang posisitf. Di malam hari temperaturnya turun, Ralston masih bekerja untuk membebaskan dirinya sendiri. Minggu dan Senin berlalu, tapi ia masih terjebak. Sinar matahari sampai di lantai ngarai sempit hanya untuk waktu yang sangat singkat waktu setiap hari. Dia kehabisan makanan dan air pada hari Selasa.
Pada hari Rabu, Ralston mulai menghirup air seni yang telah ia simpan di hari sebelumnya. Dia mengeluarkan video kamera dan merekam pesan terakhir berisi selamat tinggal kepada orang tuanya. Dia lalu mengukir namanya, tanggal lahir, dan apa yang dia yakin adalah hari terakhirnya di bumi ke dinding ngarai. Di atasnya dia mengukir RIP.
Pada Kamis pagi, Ralston melihat suatu visi (penampakan?) yaitu seorang anak 3 tahun berlari lalu dibawa oleh seorang pria yang hanya memiliki sebuah lengan. Dia mengerti visi itu bahwa anak itu akan menjadi anak di masa depannya dan dia memutuskan untuk melakukan tindakan yang segera agar hidupnya bisa bertahan. Jika ia tidak menyelamatkan dirinya sekarang, dia tidak akan memiliki kekuatan fisik yang tersisa untuk melakukannya nanti. Akhirnya dia mengambil keputusan yang dramatis : memotong tangannya sendiri!
Ralston siap untuk mengamputasi lengan kanan di bawah siku dengan menggunakan pisau multi fungsinya. Menyadari bahwa pisau itu tidak cukup tajam untuk memotong tulang lengan ia menekan tangannya melawan batu dan mematahkan tulangnya sehingga dia akan bisa memotong tangannya melalui jaringan. Pertama ia mematahkan tulang radius, yang menghubungkan siku dengan jempol. Dalam beberapa menit ia memecahkan ulna, tulang di bagian luar lengan bawah. Selanjutnya ia menerapkan tourniquet yaitu membebat atau mengikat erat lengannya. Dia menggunakan pisau untuk mengamputasi lengan kanan di bawah siku. Seluruh prosedur dibutuhkan kurang lebih satu jam.
Ralston memberikan pertolongan pertama untuk dirinya sendiri dari kit kecil di ransel. Ia menancapkan jangkar dengan tali di tempat itu. Ia kemudian mendaki 5 mil ke hilir Horseshoe Canyon yang berdekatan, di mana ia bertemu dengan keluarga wisatawan dari Belanda yang sedang berlibur.
Pasangan Belanda Eric dan Monique Meijer dan putra mereka, Andy, mulai keluar dari ngarai ketika mendengar suara di belakang “Tolong, saya butuh bantuan”. Pasangan itu segera menyadari bahwa dia pasti seorang pendaki yang hilang seperti keterangan dari petugas sehari sebelumnya..
Ralston berjalan cepat menuju pasangan ini dengan lengannya yang digantung di sling buatan sendiri dan ia berbicara dengan jelas: “Halo, nama saya Aron, saya jatuh dari tebing pada hari Sabtu dan saya terjebak di bawah batu besar. Saya memotong tangan saya empat. jam yang lalu dan saya memerlukan pertolongan medis. Saya butuh helikopter “.
Istri dan anak Eric mencoba untuk keluar lebih dulu dari ngarai secepat mungkin untuk mendapatkan bantuan. Eric bersama dengan Aron untukn memberikan dia makanan, air dan dukungan mental. Meskipun kehilangan darah, Ralston tetap mampu berjalan tapi pasir di dalam sepatunya mulai mengganggu dia. Dia berhenti sejenak di tempat yang teduh untuk menghilangkkan pasir dalam sepatunya lalu melanjutkan perjalannnya lagi.
Tiba-tiba awak pesawat melihat dua orang di Horseshoe Canyon melambai. Ini adalah istrinya Eric dan anaknya dan mereka memberikan sinyal ke arah helikopter dan menunjuk ke arah korban. Awak pesawat merespon dengan cepat dan mendarat di tempat yang luas di lembah dekat Ralston. Kru pesawat terkejut saat melihat – lapisan darah kering dan segar tubuhnya – dan lengan yang hilang.
Ralston menyandarkan kepalanya kembali helikopter dan menghirup air. Vetere mengajaknya ngobrol, sehingga dia tidak akan kehilangan kesadaran. Dua belas menit kemudian, helikopter tiba di Allen Memorial Hospital di Moab, Utah. Ralston masuk ke ruang gawat darurat tanpa bantuan, kemudian menunjuk pada peta di mana dia telah terjebak.
Para penyelamat heran Ralston tetap hidup. Sebuah helikopter kemungkinan besar tidak akan menemukannya karena posisinya di celah lembah yang dalam dan sempit. Aron Ralston memiliki semangat luar biasa untuk hidup, dia tidak pernah menyerah dan akhirnya dia selamat.
Kisah Ralston sendiri sudah diangkat ke layar lebar dengan judul “127 Hours” dengan pemerannya James Franco.

Hay!!!